Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID) atau Indonesian Community for Democracy, adalah sebuah Perkumpulan yang dibentuk dengan tujuan mendorong kehidupan demokrasi melalui pendidikan dan pelatihan. Gagasan awalnya muncul dari diskusi beberapa tokoh di Indonesia dengan wakil-wakil dari Institute for Multiparty Democracy (IMD) di Den Haag, negeri Belanda, yang telah dikenal luas secara internasional karena inisiatif dan kegiatannya mendorong kehidupan multipartai dan proses demokratisasi di sejumlah negara di Afrika dan Amerika Selatan.
Komunitas Indonesia untuk Demokrasi mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis serta menjunjung tinggi multikulturalisme, pro-eksistensi, kesetaraan, peri-kemanusiaan yang adil dan beradab, kedaulatan rakyat, keterbukaan, integritas, akuntabilitas dan meritokrasi
Press Release
Parpol Abai Lakukan Institusionalisasi
Komunitas Indonesia untuk Demokrasi
Jakarta, 07 Maret 2012
Melemahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik berimplikasi terhadap kualitas demokrasi itu sendiri. Munculnya krisis terhadap partai politik banyak disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya tindak korupsi yang dilakukan oleh aktor-aktor politik yang sekarang mencuat di media massa sekarang ini turut memberikan pengaruh besar terhadap citra partai politik itu sendiri di mata masyarakat. Faktor lainnnya seperti nepotisme kepemimpinan, dan rendahnya kualitas anggota DPR/DPRD juga berpengaruh besar.
Ekspektasi publik terhadap gerakan reformasi beberapa waktu lalu, berbuah kekecewaan. Partai politik yang awalnya diharapkan bisa mewujudkan ekspektasi publik tersebut ternyata gagal melaksanakan amanah reformasi. "Partai politik yang awalnya bisa diharapkan bisa membuat gerakan reformasi, namun akhirnya tidak berhasil melakukan gerakan tersebut," ujar Akbar Tandjung dalam acara diskusi bertajuk "Ketidakpercayaan kepada Partai Politik & Masa Depan Demokrasi" yang diselenggarakan oleh Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID) di Jakarta, 7 Maret 2012.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini juga menjelaskan bahwa kegagalan lainnya dari gerakan reformasi adalah, melakukan penyederhanaan jumlah partai politik peserta pemilu. Ini terbukti dari setiap penyelenggaraan pemilu, kehadiran partai politik baru selalu ada. "Setiap pemilu berlangsung, selalu ada partai baru. Dan tren pendirian partai tiap pemilu menunjukan tren kenaikan," lanjutnya.
Sementara Sunny Tanuwidjaja, analis politik CSIS yang juga hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut menjelaskan bahwa sistem pemilu sekarang ini harus diperbaiki dengan cara melakukan penyederhaan daerah pemilihan. Penyederhanaan daerah pemilihan ini dimaksudkan untuk menciptakan sistem politik yang kuat sehingga aktor-aktor politiknya lebih dekat dengan kostituen.
Selain itu, ujar Sunny, penyederhanaan daerah pemilih ini juga dalam rangka mencitakan mekanisme demokrasi dan akuntabilitas politik lebih mudah dipertangggung jawabkan. "Bila tidak ada sistem akuntabilitas, maka bisa dipastikan partai politik dan aktor politik akan berbuat korup," kata Sunny.
Terkait dengan semakin menurunnnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik, hal itu dinilai wajar oleh kedua narasumber tersebut. Menurut Akbar Tanjung, hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran dan fungsi partai politik itu sendiri di masyarakat.
Selain itu, menurutnya partai politik juga abai melakukan institusionalisasi kepartaian sehingga partai memiliki platform dan visi yang bisa dipahami oleh masyarakat sebagai konstituennya. Sebagian besar partai politik sekarang ini, dalam pengamatan Akbar Tanjung belum memiliki platform dan visi yang kuat, sehingga praktik dramatisme politik dan politik transaksional sering terjadi
"Kaderisasi dalam partai juga sangat lemah, tidak ada mekanisme demokrasi yang kuat juga tampak dalam partai politik," ujarnya.
I was recently caught in a gridlock just outside the small city of Pasuruan, East Java, for more than an hour. None of the vehicles moved. I wound down my car window and asked the policeman standing by the road what the problem was.
He smiled wistfully and said “It’s a traffic jam, normal!”. I couldn’t help wonder why this city of 186,000 people could suffer from traffic problems. It was just like sitting on the city toll road in Jakarta when there is an accident and there is a total standstill....
Akhir-akhir ini Peraturan Bersama Menteri (PBM) Agama dan Menteri Dalam Negeri No 8 dan No 9 Tahun 2006 yang mengatur kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadah menjadi polemik yang terus menghangat....
Recent tensions between Dayak youths and Islam Defenders Front (FPI) members in Pontianak, West Kalimantan, brought back vivid images of the Sampit conflict in 2001 in Central Kalimantan. The fight between youths, centering on a banner telling one group of youths that they had to leave the city, nearly caused violent conflict and pushed the panic button ofthe security apparatus....
Dalam negara demokratis, agama berada dalam wilayah privat, yang berarti agama berada di luar wilayah jurisdiksi pemerintah. Kendati demikian, Indonesia mempunyai kementrian agama. Adanya kementrian ini bisa dipahami dari latarbelakang perkembangan sejarah Indonesia. Kementrian ini pun dibatasi wilayah kerjanya hanya pada manajemen politik dan admistrasi hukum atas kehidupan beragama....
I read your article in the latest edition of Foreign Affairs magazine, titled “The future of history”, with great interest....
Kegiatan dan Berita Seputar KID
Lunch Lecture - Ketidak-Percayaan Kepada Partai Politik & Masa Depan Demokrasi - 7 Mar 2012 Ada beberapa fenomena yang perlu diperhatikan secara khusus dalam kurun waktu tiga tahun terakhir: Pertama, bertambah besarnya jumlah kelompok yang memilih untuk tidak berpartisipasi dalam pemilu eksekutif terakhir. Kedua, beberapa minggu lalu dua lembaga survey yang berbeda, CSIS dan Lembaga Survey Indonesia, melaporkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik merosot.
Study Tour Egyptians dan Denmark ke KID, 1-6 Feb 2012 Pada tanggal 1 sampai 6 Februari 2012, KID menerima kunjungan dari Organisasi dari Mesir dan Denmark. Kegiatan dimulai tanggal 1 Februari dengan kunjungan dan diskusi di kantor KID. Kemudian dilanjutkan kunjungan ke Mitra Kerja KID di daerah (Malang dan Tangerang). Rangkaian Study Tour diakhiri dengan seminar publik bertemakan "Perbandingan Transisi Politik di Mesir dan Indonesia" pada tanggal 6 Februari di Jakarta