Kampanye Tanpa Bendera (Catatan dari Pemilu Belanda - I)
Senin 20 November 2006 para undangan dibagi dalam kelompok partai dan mengikuti masing-masing partai berkampanye. Hari itu adalah momen paling sibuk karena 100 jam terakhir kampanye sebelum hari H sudah hampir usai. Diperkirakan cukup banyak pemilih masih menimbang-nimbang dan bisa berganti partai pada jam-jam terakhir ini. Manajer kampanye, penyusun skenario dan platform partai, para kader, serta relawan partai bekerja keras menggalang strategi pemenangan partai. Walaupun begitu, suasana kampanye di negeri Belanda sangat berbeda dengan di tanah air. Tidak tampak bendera-bendera partai di jalan-jalan dan tidak ada pertunjukan besar-besaran yang diadakan partai untuk menjaring pemilih. Wargapun menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasanya.
Hampir setiap undangan dari kedelapan negara mitra mengungkapkan keheranan atas sepinya suasana kampanye di Belanda. Rupanya hura-hura kampanye partai tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga di Ghana, Tanzania, Afrika Selatan, Kenya, Georgia, Bolivia, dan Guatemala untuk alasan yang berbeda-beda. Konser musik yang menampilkan artis populer sambil membagi-bagi topi dan kaus masih menjadi taktik partai di negara sedang berkembang. Popularitas artis dan suvenir dengan gambar partai dianggap ampuh untuk menjaring pemilih dari kalangan kurang terdidik daripada program dan platform partai. Peserta dari Georgia mengungkapkan suasana kampanye di negaranya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia walaupun angka melek huruf di Georgia sudah mencapai di atas 95%. Karisma pemimpin partai masih menjadi daya tarik dan jalan-jalan di Georgiapun dipenuhi bendera dan umbul-umbul. Mungkin warga Georgia masih diselimuti euforia demokrasi setelah lepas dari belenggu Uni Soviet.
Memang ada poster-poster partai yang ditaruh di beberapa titik di tempat umum. Namun biasanya, beberapa poster dari berbagai partai diletakkan bersama-sama secara adil. Kampanye di Belanda lebih dipenuhi dengan acara debat politik. Hampir setiap stasiun radio dan televisi menyiarkan debat para tokoh partai setiap hari. Kemampuan intelektual para tokoh benar-benar diuji karena forum debat berlangsung sangat intensif. Setiap partai berupaya menampilkan tokoh yang santun namun tangkas secara verbal dan mempunyai kemampuan argumentasi yang tangguh. Beberapa isu yang diperdebatkan antara lain layanan kesehatan, pajak (terutama bagi penduduk lansia yang mendapatkan pensiun), pengangguran, imigrasi, kriminalitas, dan keamanan.
Selain debat, setiap partai di Belanda mendapat bis partai yang bisa dipakai untuk berkeliling dan mempromosikan partai masing-masing. Bis berhenti di beberapa titik (pasar, kampus, bandara, dsb) bergantung pada konstituen yang ingin dijaring partai. Kendaraan ini tidak berisi perlengkapan panggung atau alat musik melainkan para kader dan relawan partai yang siap membagikan brosur kecil sambil menjelaskan program partai kepada setiap orang yang lewat dan tertarik untuk mendengarkan. Kadangkala para caleg juga ikut dalam bis ini dan benar-benar meluangkan waktu untuk bicara secara individual. One voter at a time, begitu mereka saling menyemangati satu sama lain dalam campaign bus tour ini.
Untuk memperebutkan 150 kursi di parlemen dari sekitar 26 juta warga pemilih, partai dan pendukungnya beradu otak dan bukan beradu otot. Dalam perebutan konstituensi di Indonesia, fenomena adu otot masih dominan. Partai dianggap hebat jika banyak benderanya, bisa menampilkan artis top, atau memberikan hadiah paling banyak. Kita jadi bertanya-tanya apa alasannya. Apakah masyarakat Indonesia masih dilanda euforia demokrasi? Atau tingkat pendidikan di Indonesia masih belum memadai sehingga kompetensi dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap platform dan isu politik masih diragukan? Ataukah kompetensi (dan juga integritas) calon dari partai yang justru seharusnya diasah terus?
Penulis: Anita Lie
Penulis mewakili Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (www.komunitasdemokrasi.or.id) memenuhi undangan dari Netherlands Institute for Multiparty Democracy (NIMD) untuk mengikuti program kunjungan bersama dengan 24 politisi dan pengamat dari 8 negara mitra IMD (Indonesia, Ghana, Tanzania, Afrika Selatan, Kenya, Georgia, Bolivia dan Guatemala) pada 18-24 November 2006. Para undangan berpartisipasi dalam aktivitas kampanye menjelang pemillihan parlemen Belanda pada 22 Nov dan menyaksikan serta memberi masukan mengenai sistem dan praktik demokrasi di Belanda.