IDASA (Institute for Democracy in Africa) yang berkantor di Pretoria Afrika Selatan telah mengirim 2 wakilnya Ms. Noxolo Mgudlwa dan Mr Olmo von Meijenfeldt, untuk mengunjungi Sekolah Demokrasi yang diselenggarakan oleh Komunitas Indonesia untuk Demokrasi. Ms. Mgudlwa adalah penanggungjawab ILEDA School (Sekolah Demokrasi) sementara Mr. von Meijenfeldt adalah Strategic Manager di ILEDA. Dalam kunjungan ini, mereka didampingi oleh Mr. Will Derk, Policy Officer dari NIMD.
Dalam waktu 2 hari, tanggal 3-4 April, mereka mengunjungi Sekolah Demokrasi Tangerang dan Sekolah Demokrasi Pangkep. Pada waktu yang sama mereka berkesempatan untuk bertemu dan berdialog dengan Komite Komunitas Tangerang.
Di Tangerang, rombongan melihat secara langsung proses belajar dalam kelas yang saat itu sedang terjadi. Saat rombongan masuk, peserta sedang melakukan review kegiatan yang sebelumnya telah mereka lakukan, yaitu outbond. Oubond merupakan kegiatan yang dilakukan di awal proses pembelajaran untuk memberi kesempatan kepada semua pihak (peserta, tim pelaksana dan fasilitator) untuk mengenal satu sama lain. Dengan kebersamaan itu, proses belajar Sekolah Demokrasi akan semakin lancar.
Fasilitator dan Lembaga Pelaksana kemudian menyediakan waktu bagi IDASA dan peserta Sekolah Demokrasi untuk saling berbagi dalam diskusi dan tanya jawab. Untuk membantu kelancaran komunikasi peserta dan rombongan IDASA, Will dan Sugeng Bahagijo (Direktur Eksekutif KID) yang menemani rombongan bertindak sebagai penerjemah secara bergantian. Beberapa isu yang dimunculkan dalam diskusi antara lain, apa peran IDASA dalam proses demokrasi di Afrika Selatan dan Afrika pada umumnya, isu gender dan lingkungan. Sementara yang menarik bagi IDASA dari Sekolah Demokrasi adalah keterlibatan banyak pihak dalam proses penyelenggaraannya, meliputi 4 pilar demokrasi, adanya fasilitator dan Lembaga Pelaksana yang secara khusus dan intensif menjadi motor penggerak Sekolah Demokrasi.
Setelah bertemu dengan peserta Sekolah Demokrasi, rombongan IDASA/ILEDA bertemu dengan pengurus Komite Komunitas Tangerang yang beberapa waktu yang lalu telah mengadakan konggres dan menetapkan kepengurusan baru. Dengan KK Tangerang, topik yang dibahas adalah tentang bagaimana alumni terus berkomunikasi dan berhubungan dengan Sekolah Demokrasi. Persoalan yang dihadai IDASA/ILEDA serupa dengan yang dihadapi KID adalah bagaimana mempertahankan hubungan dengan para alumni. Dan untuk KID, isu yang saat ini muncul adalah bagaimana membantu Komite Komunitas agar bisa mandiri dan berkelanjutan.
Di Sekolah Demokrasi Pangkep, mereka bertemu dengan peserta SD Pangkep. SD ini baru berjalan mulai tahun 2010 dan diselenggarakan oleh KID bekerjasama dengan LAPAR Makasar. Dilaporkan bahwa Noxolo, Olmo dan Will merasa senang telah melakukan perjalanan ke Tangerang dan Pangkep karena dari 2 SD ini mereka bisa melihat bahwa Sekolah Demokrasi di Indonesia telah berjalan dengan baik. Peserta SD yang berasal dari berbagai pilar memberi warna dan dinamika tersendiri.
Kemudian, pada tanggal 5 April rombongan IDASA/ILEDA bertemu dengan Badan Pengurus Harian KID untuk berbagi pengalaman dalam menyelenggarakan program mereka. IDASA melalui salah satu programnya bernama ILEDA (Initiative for Leadership and Democracy in Africa) telah menyelenggarakan program serupa dengan Sekolah Demokrasi yaitu Citizen Leadership Programme selama kurang lebih 10 tahun dan sejak tahun lalu menyelenggarakan Akademi Politik (Political Leadership Programme). Karena kesamaan program (KID berencana untuk mengembangkan Akademi Politik) maka banyak pengalaman dan pembelajaran yang bisa diceritakan dan dibagikan. Diharapkan akan ada hubungan dan kerjasama yang lebih baik antara KID dan IDASA/ILEDA di masa depan (ditulis oleh Heny Soelistyowati).