Dinner Lecture yang dilakukan oleh Komunitas Indonesia untuk Demokrasi merupakan salah satu aktifitas yang dilakukan satu bulanan dengan maksud melihat demokrasi, bukan dalam tingkatan sangat teoritis tetapi bagaimana demokrasi menghadapi tantangan-tantangan kongkret dalam sektor-sektor HAM, Pilkada, pertanian, air, energi dan kali ini pada tanggal 23 Oktober 2007 melihat tantangan demokrasi di sektor media. “Media dan Demokrasi” merupakan tema yang dipilih dengan menghadirkan nara sumber Jacob Oetama—pemimpin umum kelompok Kompas, Gramedia dan Ishadi SK direktur utama Trans TV, sedangkan pembahas adalah Garin Nugroho direktur Yayasan Sains Estetika dan Teknologi sedangkan Ratih Harjono sekretaris jendral steering committee Komunitas Indonesia untuk Demokrasi sebagai moderator.
Jacob Oetama melihat fenomena media di Indonesia bahwa media massa, khususnya TV mulai masuknya pemodal besar yang implikasi belum bisa dikatakan, yang pasti secara umum kita sikapi secara terbuka. Secara kritis, independensi media masih bisa dihargai dan ini merupakan salah satu yang krusial dalam perkembangannya. Hal lain yang perlu dicermati adalah persiapan tenaga trampil dalam mengelola sebuah media massa. Namun hal ini menjadi sulit dimana semua orang mempunyai hak untuk “berbicara” membuat koran dan majalah serta tanpa izin. Di dalam buku Media and Democracy muncul konsep “media democracy” yang menjadi kelompok kongkrit dan berpengaruh, merefleksikan pengaruhnya dalam kehidupan berdemokrasi meski secara fisik audiens tidak saling berkomunikasi. Lebih lajut perkembangn informasi, melalui internet dan media mobile diprediksikan demokrasi akan kembali seperti pada jaman Athena. Itu semua merupakan fenomena dan akan tetap terus terjadi, yang jelas berubah adalah content, size, mobilitas modal dan peminat.
Ada beberapa sikap yang bisa diambil oleh media terhadap demokrasi yaitu sumber isi dan analisasnya misal, media tidak hanya melakukan refleksi dari apa yang terjadi, dan tidak hanya melakukan shaping up, tapi media punya falsafah, punya komitmen. Dan dengan outlookitu dia mempunyai pandangan yang mendasar tentang hal-hal pokok yang strategis di dalam kehidupan masyarakat. Itu dirumuskan menjadi semacam frame of references the whole you look exist atau the way we select peristiwa-peristiwa dan persoalan-persoalan untuk menjadi bahan berita. Dan tentu saja media harus punya conscious.
Melihat demokrasi sekarang ini. Disana-sini menekankan hal-hal tertentu. Satu, masih mencari sosok yang pas. Sistem presidensial dengan sistem multi partai, bisa atau tidak, jalan atau tidak. Kedua, kecuali sistem, kecuali paham, teori, dalam setiap aliran politik punya kultur. Kultur dengan sistem tidak sudah dengan sendirinya klop. Kesenjangan antara paham kekuasaan demokrasi dengan kultur kekuasaaan masih melekat dalam peri kehidupan kita bersama. Ini mempunya pengaruh yang besar. Demokrasi, by definition kekuasaan itu melayani. Kultur kekuasaan feodal, by definition, kekuasaaan itu dilayani.
Yang juga harus disikapi dalam demokrasi adalah hubungan antara pelaku bisnis dengan kekuasaan. Itu juga belum selesai sama sekali, dengan segala konsekuensinya, yang one way of the other punya dampak terhadap birokrasi, terhadap demokrasi. Mengingat semua ini makanya menempatkan posisi dari media, pro-aktif, tidak sekedar refleksi dari apa yang terjadi tetapi ikut reshaping demokrasi itu. Bahkan menunjukkan terutama persoalan-persoalan yang menjadi titik-titik lemah dari demokrasi itu.
Dengan sendirinya untuk bisa melihat, memahami, melaporkan mengenai tugas media, tidak bisa media itu sembarangan. Man power sangat penting. Finally, media itu wartawannya dan semua yang terlibat dalam bidang kepemimpinan, dia harus punya alur intelektual. Dia harus punya alur kultural, dan dia harus punya kepekaan secara hati. Media—apakah elektronik atau cetak, tidak hanya ditentukan oleh wartawan. Ini adalah suatu organisme yang terdiri dari: bagian redaksi, editorial, bagian iklan, bisnis, distribusi, percetakan, kalau media cetak. Sehingga media itu dari sananya, ia sosial-politik, kultural dan lain-lain. Tetapi ia juga adalah bisnis. Dalam pengertian kemampuan bisnis membuat ia punya penghasilan cukup sehingga ia bisa mengambil sikap independen. Sekalipun tidak dengan sendirinya independensi itu timbul, sekalipun ia secara finansial bisa berdiri sendiri.
Media itu adalah perangkat sosial, perangkat pendidikan, perangkat kultural dan perangkat bisnis.” Di media televisi harus dibalik, bisnisnya lebih dulu. Ada beberapa alasan. Pertama karena memang dia padat modal. Kedua karena dia menghadapi sebuah kompetisi yang makin lama makin ketat, tidak hanya dari sesama stasiun televisi di dalam negeri, tetapi juga televisi dari luar. Akhirnya pertarungan yang paling terlihat tidak lagi dalam pertarungan budaya tetapi dalam pertarungan ekonomi dan politik di media televisi. By nature, secara alamiah seperti itu. Pada dasarnya media itu tidak dapat lepas dari tekanan-tekanan politik dan ekonomi, khususnya televisi. Demikian gagasan pembuka dari Ishadi SK.
Ada pengaruh-pengaruh yang sangat kuat dari kepentingan-kepentingan bisnis di dalam penentuan agenda, di dalam penentuan news roomitu sendiri. Tetapi tentunya ini bukan sebuah standar, sebuah kepastian, karena masih ada tarik-menarik antara kepentingan bisnis dan idealisme didalam sebuah media. Saya cenderung menggambarkannya dalam lima lingkaran-lingkaran besar:
Pertama lingkaran ideologi di sebuah negara. Dari posisi ideologi bisa segera mengetahui media seperti apa yang akan berkembang dan bagaimana media itu dikembangkan.
Dibawah ideologi, ada lingkar kedua, yaitu rules and regulation.Rules and regulation ini sebagai refleksi, gambaran dari ideologi yang sudah diputuskan.
Ketiga, perkembangan sisi bisnisnya, advertising expenditure. Seberapa besar pangsa iklan itu berkembang dan bisa menghidupi dan mengembangkan media maupun stasiun televisi yang bersangkutan.
Keempat, ownership. Ownership turut menentukan arah perkembangan media yang bersangkutan. Siapa owner-nya dan bagaimana ownership itu bersikap terhadap media yang dimiliki.
Kelima, Management. Management yang ditunjuk oleh owners untuk mengelola media yang bersangkutan. Para manager, board of directors yang ditunjuk untuk menjalankan perusahaan itu secara bisnis maupun secara idealisme.
Terakhir, merupakan core yang sangat kuat dan terbukti sangat kuat adalah para profesional. Justru karena profesional, sangat strategis, menjadi menarik untuk membahas bagaimana posisi para profesional dan bagaimana perkembangan para profesional broadcast di Indonesia.
Acuan yang bisa saya lakukan adalah di Trans TV dan sekarang di Trans 7. Kepada seluruh profesional mari kita buat Trans TV dan Trans 7 itu menjadi transformergaris bangsa ini. Menjadi perangkat yang bisa mentransformasikan bangsa ini untuk bisa maju ke depan.
Kami percaya bahwa media mempunyai peranan yang sangat besar dalam transformasi tersebut. Sehingga yang pertama, yang harus dilakukan adalah men-transform orang-orang media, para profesional di dalam media itu, pikiran, gagasan dan semangatnya. Sehingga bisa memberikan program, memberikan output nantinya yang mengarah pada transformasi bangsa ini secara luas. Dalam konteks denah ini, pengalaman saya menunjukkan bahwa para profesional yang sudah dididik seperti itu, mampu melakukan proses untuk bereaksi terhadap tekanan-tekanan baik dari kelompok-kelompok orang politik maupun dari tekanan-tekanan kelompok bisnis dan mengangkat sisi-sisi idealisme didalam program yang bersangkutan. Tentu ini memang memerlukan proses tetapi percaya proses ini bisa kita lakukan. Media akan bisa memberikan sumbangan besar di dalam transformasi bangsa ini.
Garin Nugroho memunculkan sepuluh ciri yang mungkin bisa memberikan hubungan antara demokratisasi dan media: Pertama, ini adalah era tradisi lisan ketiga dari masyarakat Indonesia. Era Tradisi pertama tentu saja sebelum munculnya elektronik, termasuk radio dan kemudian sekarang televisi. Ini penting untuk menghubungkan gaya demokrasi kita dengan tradisi lisan karena hampir seluruh program TV dan minat baca sebenarnya tidak berhubungan dengan kemajuan bangsa ini. Seluruh program-program yang sukses televisi kita dan bahkan nilai demokrasi kita, adalah betul-betul tradisi lisan. Tukul itu adalah contoh tradisi lisan warung kopi. Dimana kita perlu membawa teman yang bisa diolok-olok, tidak marah, mengolok pakai kata kasar dan sebagainya.
Persoalan utama dari tradisi lisan ketiga ini adalah pada wilayah tradisi lisan pertama mereka punya suatu pranata, baik itu pranata nilai, etika, kontrol, yang menjadikan siapakah yang disebut mpu tradisi lisan. Dia harus ahli bahasa, kemudian cendikiawan untuk masalah-masalah pengetahuan dan sejarah, minimal dia punya nilai-nilai etika dan bagaimana aktualitas hidup di masyarakat. Oleh karena itu pada tradisi lisan pertama terjadi para mpu tradisi lisan, para profesional sebetulnya. Tradisi lisan ketiga sekarang ini di televisi, apakah para pembicara di televisi ini masuk di dalam mpu? Pada program jam tayang keluarga, kata-kata kasar dan kekerasan muncul dimana-mana. Karena itu yang harus dicermati dalam demokratisasi adalah tradisi lisan ketiga yang dikembangkan dengan visual ini, tidak disertai dengan pranata yang cukup siap untuk menjalankan itu. Oleh karena itu seluruh debat politik di televisi dan sebagainya, sebetulnya tidak lebih dari ngobrol-ngobrol di warung kopi, tidak perlu disimpulkan, tidak perlu ditarik sesuatu yang penting tetapi dilihat pada kondisi-kondisi budaya pop semata.
Tradisi lisan ketiga punya produktivitas yang tinggi atau tingkat ketidakproduktifannya yang sangat tinggi juga. Mari kita lihat Bahasa Indonesia dalam era tradisi lisan ketiga di televisi misalkan. Apakah benar, di Indonesia tidak ada orang yang tidak ingin berbahasa Indonesia yang baik dan benar dan itu tidak menjadi sesuatu yang baik. Ambil contoh misalkan kalau olympiade di televisi-televisi negara yang maju, selalu pembawa acaranya tokoh-tokoh yang dihormati dan tidak olok-olok. Saya tanya, “kenapa tidak bikin komedi untuk olympiade, olok-olok sajalah.” Dia bilang, olympiade adalah prestasi dan kita harus menghormati prestasi itu. Di kita hampir semua acara, sepakbola, hampir semua olok-olok.
Ciri kedua, adalah dunia penggemar. Dari tingkat politik sampai tingkat apapun juga sampai dunia penggemar sepeda engkol ada. Kelompok-kelompok itu memberikan survival sendiri. Triger-nya adalah media baru yaitu televisi dan sebagainya. Dunia penggemar menjadi luar biasa, menjadi kekuatan massa baru dan kekuatan demokratisasi baru. Ciri ketiga adalah cara pengukuran. Cara pengukuran, sekarang terkenal “rating mengatakan”. Rating adalah cara pengukuran, yang dilihat secara industri bisa jadi patokan dengan suatu sistem tertentu tetapi sekarang rating berhubungan dengan massa. Dilema dari rating di kita adalah dia tidak ada dalam suatu evolusi sejarah televisi yang sehat. Evolusi dalam sejarah televisi yang sehat adalah, rating harus berdasarkan etika masyarakat televisi. Etika itu misalnya, bila bikin program anak-anak, di jam tayang anak-anak, jangan bikin program kriminal di jam tayang anak—ratingnya pasti tinggi, anak-anak suka kekerasan. Artinya, rating tidak tumbuh dalam evolusi etika profesionalisme dalam media dan demokratisasi akibatnya rating hanya menjadi massa. Massa yang sebetulnya hanya kuantitas tapi tidak kualitas. Rating massa menumbuhkan masalah besar dalam prilaku dimana-mana. Seluruh rating ini menjadi skema dari demokratisasi baru tapi sayangnya tidak dalam pertumbuhan sejarah yang benar dengan suatu etika profesionalisme.
Keempat, hubungan ruang publik dengan ruang rumah. Ini mengalami persoalan yang besar karena media masuk ke kamar-kamar. Hubungan antara panduan etika antara ruang publik dan ruang rumah itu mengalami goncangan terbesar dalam demokratisasi dan itu bukan pemecahan yang gampang. Banyak negara yang melihat televisi adalah mimbar keluarga bahwa dia menjadi mimbar publik, maka ada syarat-syaratnya misalnya, jam tayang. TV publik harus punya nilai mimbar keluarga artinya nilai-nilai yang memandu rumah, baik itu nilai politik, ekonomi, dijaga betul. Di kita tidak. Ruang publik dan ruang rumah betul-betul mengalami kehilangan panduan yang luar biasa. Ciri kelima, tekno-kapitalis di tradisi lisan penyebarannya luar biasa sekali. Pertumbuhan tekno-kapitalis, penyebaran cara-cara menanggapi suatu kehidupan bertumbuh deret ukur, sementara nilai-nilai etika profesionalnya bertumbuh deret hitung. Teknologi menjadi fragmentasi, interaktif, metamorfosa tetapi sekaligus personal.
Keenam, ruang personal. Ruang personal dan ruang publik mengalami perkembangan yang akan menghubungkan nilai demokratisasi dan media itu sendiri. Sulit membedakan antara warga konsumen dengan warga negara. Sebagian dari kita sebenarnya tidak lagi menjadi warga negara, kita menjadi warga konsumen karena boleh memprogramkan rating terbesar tanpa perlindungan konsumen. Nilai warga konsumen menggantikan warga negara, itu akan menghancurkan nilai-nilai demokratisasi karena ia kehilangan hak dan kewajibannya sebagai warga negara tapi warga konsumen semua serba membayar. Di Indonesia kali bersih, dibuat hotel. Jembatan penyeberangan yang aman pasti di seberang mall. Itu sudah pasti. Jadi kalau namanya kelas rakyat, mesti kacanya pecah tetapi kalau bisnis dan eksekutif pasti nyaman. Seluruhnya telah menjadi warga konsumen dan tidak lagi menjadi warga negara. Ini juga telihat dalam wilayah-wilayah medianya juga.
Kemudian ketujuh, waktu senggang. Waktu senggang dalam tekno-kapitalis, rata-rata dalam 30 detik dibiayai sekitar 8-15 juta, di prime time. Setiap 30 detik seluruh industri baru media, khususnya televisi, menggunakan angka rupiah untuk mengelola waktu senggang setiap individu warga. Sementara sekolah untuk 30 detik, mengelola uang berapa untuk mendapatkan perhatian dari muridnya. Waktu senggang adalah waktu produktif bangsa yang paling diacuhkan oleh setiap orang. Padahal menurut saya, waktu senggang adalah waktu yang paling terbuka untuk setiap nilai bisa masuk. Industri media sekarang sebetulnya adalah industri waktu senggang. Akhirnya, industri waktu senggang menjadikan demokratisasi, menjadikan warga konsumen juga.
Ciri kedelapan, kita menghadapi suatu abad penanda, artinya abad kinetik, abad visual. Kalau anda melihat hand phone, semakin bervisual. Iklan-iklan bisa masuk ke hand phone dengan tanda kecil-kecil. Kita seperti nulis sastra lisan dengan bambu jaman dulu. Abad visual dan simbolik ini, sebetulnya mengalami suatu dekade yang luar biasa karena ia akan pararel dengan nilai-nilai demokratisasi. Semua serba tanda, serba simbol. Agama dan sebagainya menjadi suatu semacam oasis besar dari suatu masyarakat penanda.
Kemudian masyarakat menjadi masyarakat naratif. Cara bercerita mengalami perubahan yang besar. Cara bercerita Aritoteles: awal-tengah-akhir. Setiap unsur adalah bagian dari industri, tidak boleh terbuang dan sebagainya. Sementara kita masih hidup dalam tradisi lisan pertama. Dimana bercerita adalah hubungan atas dan bawah. Kalau cara bercerita di TV kacau karena kita juga mengalami keguncangan, antara Aristotelean yang sangat industri dan hubungan dimana kalau di wayang, selalu ada Semar, Petruk, Gareng yang tiba-tiba itu dari dewa.
Nilai-nilai ini semua akan sangat mempengaruhi hubungan dari demokratisasi dan media itu sendiri. Industrialisasi kita yang sebetulnya berhubungan dengan demokratisasi dan berhubungan dengan nilai-nilai, yang disebut dengan cara bepikir, bertindak dari bangsa ini. Saya tidak yakin kalau keterlambatan nilai-nilai etika profesionalisme itu kalah dari nilai-nilai yang tadi saya tunjukkan, maka sebenarnya kita kehilangan masyarakat komunikatif sama sekali. Kita hidup dalam era komunikasi tapi sebetulnya kehilangan masyarakat komunikatif. Akibatnya, nilai-nilai keutamaan itu akan menjadi hilang.
Lalu kalau ditanya apakah tidak akan menemukan penemuan-penemuan baru? Masyarakatnya makin terbuka bicaranya, tetapi tidak produktif. Masyarakat yang menggunakan hand phone tetapi tidak produktif. Jadi akhirnya yang tercipta adalah demokratisasinya yang tidak produktif artinya, demokratisasi yang terjadi dengan media sekarang adalah demokratisasi dengan tradisi lisan ketiga, dengan visual, yang saya sebut sebagai demokratisasi warga sebagai konsumen, demokrasi tekno-kapitalis yang sangat banal, demokrasi yang serba simbolik tapi sebenarnya hanya tanda-tanda semu, penuh kekerasan dan ukurannya serba massa. Kalau ini terjadi, menurut saya, media kita, khususnya di televisi tidak punya peran yang cukup signifikan pada demokratisasi. Betul muncul menjadi anak-anak yang berani bicara, berani mengekspresikan diri, tapi itu sebagai sebagai warga konsumen dan bukan sebagai warga yang produktif.
Kalau kita tidak punya strategi komunikasi dengan etika profesionalisme, kita kehilangan peran pada abad yang sesungguhnya luar biasa ini. Saya ambil contoh sederhana. Bahwa strategi televisi itu seharusnya selalu yang terbuka, tertutup dan yang terbatas. Yang tertutup mungkin untuk intel dan sebagainya, yang terbuka untuk TV publik, yang terbatas TV swasta, mengelola berdasarkan jumlah penontonnya. Di kita tidak. Sudah terlanjur TV swasta itu semua bersifat nasional. Jadi kayak pedagang hutan, “belum berjualan sudah mempunyai HPH.” Akibat keterlanjuran ini, tidak bisa ke kanan dan ke kiri, karena swasta bilang sudah keluar modal dan tidak mungkin ditarik kembali. Kita hidup dalam semua pertumbuhan yang sudah terlanjur dalam semua pertumbuhan yang sudah terlanjur, terjadi politik konsesi. Maka sangat-sangat biasa juga kalau demokratisasi kita juga demokratisasi konsesi. Demokratisasi konsesi selalu berwajah dua: konsesi untuk kekuasaan dan konsesi untuk rakyat. Konsesi adalah biasa, dimana saja. Itu wajar dan harus. Konsesi kita lebih banyak pada kekuasaan, baik modal ekonomi, modal militer maupun modal politik.
Ignas Kleden memberikan kata penutup setelah proses tanya-jawab dengan memberikan konsep demokrasi yang dipegang oleh KID yaitu, gabungan antara atau perimbangan diantara kuantitas partisipasi di satu pihak dan kualitas wacana. Karena kalau tanpa partisipasi sama sekali, wacana hanya semacam aristokrasi atau para elite dan para cendikiawan. Tapi partisipasi saja seperti sekarang, tanpa dukungan wacana, politik kita bukan menjadi quality politics. Lebih lanjut lagi, berkaitan dengan isu media setidaknya media harus lebih memberikan sumbangan pada peningkatan pada peningkatan wacana karena itu adalah potensi media yang terbesar dibandingkan dengan lembaga-lembaga lain yang ada di Indonesia. Perluasan partisipasi sudah berjalan. Partai-partai politik sendiri bisa menjalankan hal itu. Media, baik cetak maupun elektronik sebaiknya memusatkan peranannya pada peningkatan wacana untuk mengimbangi partisipasi.
Kedua, khusus mengenai televisi. Bahwa televisi tidak bisa menghindari dari fungsi entertainment. Saya kira ini bisa di-switchmenjadi fungsi yang lain karena antara menghibur dan menimbulkan harapan, itu sebetulnya switch yang sangat kecil.
Kedua, soal privat dan publik. Bila media terlalu didorong ke soal publik maka akan ada yang dikorbankan yaitu kebebasan. Kita juga mengetahui bahwa ruang private itu menjadi tempat pelarian dimana banyak isu ketidakadilan disembunyikan. Misalnya bahwa kalau upah minimum perusahaan dianggap sebagai urusan private pihak perusahaan, dan tidak bisa diperjuangkan. Atau kalau domestic violence dianggap sebagai urusan private setiap keluarga, keadilan buat anak tidak bisa diperjuangkan. Jadi kita harus menjaga keseimbangan, dan demokrasi adalah menjaga keseimbangan, diantaranya kebebasan dalam ruang private, dan keadilan dalam ruang publik.