M. Qasim Mathar dilahirkan di Makassar pada tanggal 21 Agustus 1947.
Keluarga besarnya adalah bersuku Bugis. Ayahnya seorang pedagang bernama Mahmud Mathar dan ibunya, yang sepanjang
hidupnya sebagai ibu rumah-tangga, bernama Rukiah H. Abubakar. Ia masuk Sekolah Rakyat Negeri di kota kelahirannya
pada usia tujuh tahun. Menjelang naik ke kelas lima, karena kondisi kehidupan yang sulit pada masa itu, orangtua
dan sebagian besar saudara-saudaranya berhijrah ke kampung halaman ayahnya, yaitu Rappang
(kini, dalam wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang atau Sidrap), sebuah kota kecil jaraknya sekitar 188 km arah
utara dari Makassar. Ia bersama seorang kakak perempuannya dititipkan dan tinggal di rumah kakeknya, menunggu
akhir tahun ajaran. Setelah tahun ajaran baru tiba, ia dan kakak perempuannya tersebut menyusul keluarganya ke
Rappang dan meneruskan pendidikannya di kelas lima SR.
Setelah tamat SR (1960), ia bermaksud masuk ke
SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama). Namun, karena pertimbangan di antara paman dan bibinya, ia mendaftar pada
SMP Muhammadiyah di kota kecil tersebut. Di kota tersebut, organisasi Muhammadiyah memiliki beberapa sekolah.
Ormas Islam tersebut sangat mewarnai kehidupan masyarakat Rappang. Ayahnya sendiri dikenal sebagai orang
Muhammadiyah.
Ia menyelesaikan pendidikan SMP pada tahun 1963. Selain ijazah SMP Negeri, ia juga
berijazah SMP Muhammadiyah. Ia melanjutkan pendidikannya di PGAL (Pendidikan Guru Agama Lengkap)
Muhammadiyah di kota yang sama. Pada saat yang sama, Pengurus Muhammadiyah Wilayah Sulawesi Selatan
membentuk Pesantren Pendidikan Ulama bertempat di Rappang. Santri-santrinya berasal dari semua
kabupaten di Sulawesi Selatan di mana Muhammadiyah berada. Qasim Mathar dan teman-teman sekelasnya di
PGAL juga diikutkan pada pesantren tersebut. Pada waktu pagi sampai siang, ia mengikuti pelajaran di
PGAL. Pada waktu sore, malam, dan subuh, ia mengikuti pelajaran di pesantren. Semua santri tinggal di asrama.
Pada saat pecah pemberontakan G.30.S/PKI (1965), ia sudah di kelas terakhir di PGAL dan tahun kedua di pesantren.
Sepanjang tahun berikutnya, ia mengikuti perkembangan kehidupan bangsa Indonesia lewat pemberitaan radio
dan media cetak, karena belum ada televisi, atau melalui cerita orang-orang yang baru pulang dari Makassar.
Pada tahun 1967, ia tidak dapat menahan keinginannya untuk melanjutkan pendidikannya di Makassar.
Dengan ijazah PGAL yang dibawanya, ia diterima masuk pada Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Makassar.
Setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Ushuluddin, Qasim melanjutkan studi S.2 dan, seterusnya
menyelesaikan studi S.3-nya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1997. Kini,
Qasim mengabdi dalam pekerjaannya sebagai dosen di almamaternya di Makassar, yang kini
berubah status menjadi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Ia bersama isterinya,
Dra. Sitti Nursiah Hamid, pustakawan, bersama anak-anaknya yang belum berkeluarga
(7 orang dari 9 orang anaknya).