Seminar kali ini bertempat di Hotel Kristal Kupang dan berlangsung pada 24 Juni 2008, dengan mengambil tema mengenai Partai Politik dan Kesejahteraan. Pembicarayang hadir pada seminar ini ialah Binny Buchori dari Golkar, Zulkieflimanysah dari PKS dan Servatius Rodrigues dari Universitas Widya Mandala. Pertanyaan yang ingin dijawab dalam perdebatan kali ini ialah apakah demorkasi harus selalu menghadirkan kesejahteraan bagi warganya? Apakah tanpa menghasilkan kesejahteraan demokrasi bisa bertahan?
Pembicara pertama mengomentari kalau demokrasi dan kesejahteraan tidak bisa dipisahkan. Kalau demokrasi tidak dapat menghadirkan kesejahteraan, maka keberlangsungan dari sistem tersebut akan terancam karena ketidakpuasan dari masyarakat. Selama era reformasi, rezim demokrasi masih belum bisa menghadirkan kesejahteraan bagi warganya, terbukti dengan angka kemiskinan yang masih mencapai 37 juta orang dan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) Indonesia yang masih berada di urutan 107, lebih rendah dari Malaysia dan Thailand.
Pembicara kedua, bicara dalam arus yang serupa. Demokrasi harus berjalan berberengan dengan pembangunan ekonomi. Salah satu caranya ialah dengan memacu industrialisasi. Namun, pembangunan ekonomi ini tidak bisa dilakukan dengan mengorbankan kebebasan warga, seperti yang terjadi di Singapura. Keduanya harus berjalan seiring.
Pembicara ketiga berangkat dari konteks lokal Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, selama sepuluh tahun terakhir, terjadi revolusi harapan yang meningkat pesat. Tetapi hal berlawan terjadi dengan partai politik yang dianggapnya gagal menghasilkan produk UU untuk mengentaskan kemiskinan. Dalam konteks NTT, keinginan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan murah tidak tercapai. Justru partai politik lebih berkonsentrasi mencari tokoh-tokoh lokal sebagai calon legislatif dibandingkan mengurus masalah kesejahteraan.