Seminar KDPP kali ini berlangsung di Hotel Santika Makassar pada tanggal 30 Oktober 2008. Tema dari seminar ini ialah: "Pemilihan Umum 2009: Menurunnya Kepercayaan Publik terhadap Partai Politik dan Menguatnya Golongan Putih". Seminar ini berusaha mendiskusikan apakah terdapat kelemahan dalam tubuh partai politik yang menyebabkan masyarakat menjadi enggan memberikan suaranya. Seminar publik ini menghadirkan tiga orang pembicara yaitu: pertama, Yasonna Laoly dari PDI-P, kedua, Lukman Hakiem Saefuddin dari PPP dan Jayadi Nas, akademisi dari Universitas Hassanudin.
Yasonna Laoly dari PDI-P memulai dengan mengomentari definisi umum golput yaitu dari segi teknis-administratif. Berdasarkan 14 seri Pemilihan Kepala Daerah Langsung (Pilkada), tingkat golput bisa disimpulkan cukup tinggi, yaitu sekitar 60%-70%. Pada masa Orde Baru, golput muncul sebagai akibat sebab-sebab politis. Sedangkan pada masa reformasi, menurutnya, golput menjadi tinggi karena ketidakpuasan masyarakat terhadap partai politik yang tidak dapat mengagregasi aspirasi masyarakat.
Pembicara kedua, Lukman Hakiem Saefuddin dari PPP, mengatakan bahwa persoalan Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu yang tidak bisa diandalkan menjadi salah satu penyebab kemunculan golput. Pengertian golput sendiri juga perlu ditinjau ulang di era reformasi karena Indonesia sudah menjadi negara demokrasi. Namun demikian, tetap diperlukan usaha untuk mendorong orang untuk memilih karena tingginya angka golput walaupun tidak mendelegitimasikan rezim berkuasan, tetapi bisa memperlemah institusionalisasi partai politik yang sedang berjalan.
Pembicara ketiga, Jayadi Nas dari Universitas Hassanudin, menurutnya, tingginya golput adalah konsekuensi logis tidak buruknya kinerja partai politik, perilaku elite politik yang tidak simpatik dan ketiadaan pembedaan ideologi yang jelas antar partai. Oleh karenanya, diperlukan perbaikan citra dan kinerja partai politik. Golput juga terdorong oleh tidak terpeliharanya dengan baik hubungan antara partai politik dan konstituennya.